Judul: The Girls of Riyadh
Penulis: Raja Alsanea
Penerjemah: Syahid Widi Nugroho
Penyunting: Mehdy Zidane
Penerbit: Ufuk Press
Hlm: 408
Tahun: 2008
ISBN: 9791238564
Harga: pinjam di pinjambuku.com
Rated: 3/5
Sinopsis:
Girls of Riyadh:
Kisah Email Empat Gadis Saudi Arabia yang Menghebohkan… Versi asli buku ini diluncurkan dalam bahasa Arab pada 2005, dan secepatnya dilarang beredar di Saudi Arabia karena isinya yang menghebohkan. Keberanian buku ini berlanjut bak nyala api di seantero pasar gelap Saudi dan menggemparkan hingga ke belahan Timur-Tengah lainnya. Hingga kini, hak terjemahan atas buku ini telah terjual ke lebih dari dua puluh lima negara.
Setiap minggu—setelah salat Jumat—seseorang tak dikenal mengirimkan email bersambung kepada para wanita yang melakukan chatting di sebuah grup online di Saudi Arabia. Terdapat lima puluh email dalam setahun. Isinya menghebohkan. Kisah nyata kehidupan empat gadis Riyadh: Qamrah, Michelle, Shedim, dan Lumais. Terlalu banyak hal yang mengejutkan hingga Anda harus membaca isi buku ini untuk mengetahuinya...
Setiap minggu—setelah salat Jumat—seseorang tak dikenal mengirimkan email bersambung kepada para wanita yang melakukan chatting di sebuah grup online di Saudi Arabia. Terdapat lima puluh email dalam setahun. Isinya menghebohkan. Kisah nyata kehidupan empat gadis Riyadh: Qamrah, Michelle, Shedim, dan Lumais. Terlalu banyak hal yang mengejutkan hingga Anda harus membaca isi buku ini untuk mengetahuinya...
Setelah sempat membaca memoar Debbie dalam bukunya Kabul Beauty School dan kisah pengalaman Vabyo di Kedai 1001 Mimpi: Kisah Nyata Seorang Penulis yang Menjadi TKI saya mendapatkan gambaran sikap "brutal" kaum lelaki terhadap kaum perempuan di arab sana. Namun karena keduanya diceritakan dari sudut pandang foreigner saya masih sangat skeptis dan berpikir masa iya sih? di negara islam tempat lahirnya Nabi Muhammad SAW para laki-lakinya justru merendahkan para perempuan begitu.
Terlepas dari betapa menariknya kisah "menggemparkan" itu saya masih nggak sreg sama terjemahannya yang mirip terjemahan hadist dan al-quran. Gaya bahasa terjemahan macam ini sungguh boros kata dan sukses membuat saya naik darah saking mbuletnya. Kisah yang seharusnya memikat jadi tidak bisa saya nikmati. Bahkan puisi-puisi yang seharusnya bisa terdengar romantis jadi memuakkan dan terkesan gombal. Jujur saya tersiksa membacanya. Untungnya, setelah 60% halaman terlewati, kisahnya mulai menarik dan saya menahan diri untuk tidak membanting buku karena bahasanya yang 'aduhai' sekali akhirnya mampu bertahan membaca hingga akhir. Rewel banget ya hehe..
Tapi setelah membaca The Girls of Riyadh ini yang katanya "kisah nyata" saya jadi bias dalam memandang budaya timur tengah. Email-email yang menceritakan pengalaman cinta empat sahabat ini benar-benar membuat saya shock. Terutama karena diungkapkan oleh penduduk aslinya dan bukan orang luar. Saya nggak menyangka bahwa di balik segala kekayaan dan majunya perkembangan Saudi masih ada saja budaya patriarkhi kental dalam sistem sosial mereka yang secara garis besar mengungkung para perempuan dalam berbagai aspek yang diatasnamakan agama.
Terlepas dari betapa menariknya kisah "menggemparkan" itu saya masih nggak sreg sama terjemahannya yang mirip terjemahan hadist dan al-quran. Gaya bahasa terjemahan macam ini sungguh boros kata dan sukses membuat saya naik darah saking mbuletnya. Kisah yang seharusnya memikat jadi tidak bisa saya nikmati. Bahkan puisi-puisi yang seharusnya bisa terdengar romantis jadi memuakkan dan terkesan gombal. Jujur saya tersiksa membacanya. Untungnya, setelah 60% halaman terlewati, kisahnya mulai menarik dan saya menahan diri untuk tidak membanting buku karena bahasanya yang 'aduhai' sekali akhirnya mampu bertahan membaca hingga akhir. Rewel banget ya hehe..
Tapi setelah membaca The Girls of Riyadh ini yang katanya "kisah nyata" saya jadi bias dalam memandang budaya timur tengah. Email-email yang menceritakan pengalaman cinta empat sahabat ini benar-benar membuat saya shock. Terutama karena diungkapkan oleh penduduk aslinya dan bukan orang luar. Saya nggak menyangka bahwa di balik segala kekayaan dan majunya perkembangan Saudi masih ada saja budaya patriarkhi kental dalam sistem sosial mereka yang secara garis besar mengungkung para perempuan dalam berbagai aspek yang diatasnamakan agama.
Satu pesan moral yang saya dapatkan dari buku ini diantaranya adalah bersyukur saya terlahir di Indonesia yang sekarang sudah sangat ramah akan kesetaraan gender meski tentunya masih ada budaya-budaya yang belum sepenuhnya mampu disetarakan oleh masyarakat. Tapi setidaknya sudah jauuuuuuuuuh lebih baik dan lebih bebas dibandingkan nasib perempuan Saudi.
Hasil pinjem dari PinjamBuku lagi yang berhasil saya timbun diantara pinjeman lainnya. Review ini saya tulis tahun 2011 lalu di Goodreads dan saya post kemari juga setelah saya baca Memoir Bordir karya Marjane Satrapi. I think I should read a lot more about this kind of book..
Translate to your language
Diberdayakan oleh Blogger.