Judul: Bordir
Penulis: Marjane Satrapi
Penerjemah: Tanti Lesmana
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Hlm: 136
Tahun: 2006
ISBN: 9792220070
Rated: 3.5/5
Sinopsis:
BORDIR:
Setelah sukses dengan Persepolis, Marjane Satrapi menghadirkan Bordir, buku penuh kejutan yang menyibak sekelumit kehidupan pribadi sejumlah wanita Iran. Dalam acara kumpul-kumpul bersama untuk minum teh, terjadi pembicaraan antarwanita, membahas... apa lagi kalau bukan cinta dan segala tingkah polah pria. Nenek Marjane yang selalu terus terang, ibunya yang tenang, bibirnya yang glamor dan eksentrik, serta teman - temannya dan para tetangga yang semua wanita bertukar cerita tentang keperawanan, cara meloloskan diri dari kawin paksa, operasi plastik, dan menjadi wanita simpanan.
Membaca kisah hidup mereka yang dituangkan dalam percakapan-percakapan ringan --- kadang lucu, kadang tragis --- membuat kita serasa berada di tengah-tengah para wanita ini, ikut berbagi cerita, dan mendengarkan topik-topik yang salah satu di antaranya tentu pernah dialami wanita di mana pun.
Membaca kisah hidup mereka yang dituangkan dalam percakapan-percakapan ringan --- kadang lucu, kadang tragis --- membuat kita serasa berada di tengah-tengah para wanita ini, ikut berbagi cerita, dan mendengarkan topik-topik yang salah satu di antaranya tentu pernah dialami wanita di mana pun.
Sudah setahun lebih saya memiliki buku ini tapi masih belum tergerak untuk membacanya hingga akhirnya saya penasaran sekali seperti apa bentuk Graphic Novels itu. Dan saya langsung teringat bahwa saya punya buku Graphic Novel berjudul Bordir - Marjane Satrapi.
Rupanya Graphic Novel bentuknya mirip komik ya, hanya saja lebih bebas bermain tanpa ada kolom yang memisahkan antar adegan/dialog. Oh jadi begini toh bentuknya.. ilustrasinya sederhana banget, mirip gambar di komik Shinchan, sederhana dan hanya berisi warna hitam putih saja tanpa ada tambahan shade atau hmm.. apa ya istilah teknisnya, saya kurang ngerti, yang jelas ini gambar simpel banget, lihat aja gambar wanita di covernya.
Setelah rasa penasaran terpuaskan saya mulai fokus ke dalam cerita yang rupanya juga nggak kalah menariknya. Cerita ini dituturkan kembali oleh Satrapi sendiri tentang kebiasaan keluarga Iran, lebih tepatnya keluarganya sendiri--Keluarga Satrapi.
Keluarga Satrapi, terutama para perempuannya, punya agenda favorit selepas makan siang, yaitu berdiskusi. Menurut nenek Satrapi berdiskusi itu memiliki makna tersendiri, "Membicarakan orang dibelakang punggung mereka berguna untuk melepaskan unek-unek." haha, yup, apalagi kalo bukan bergosip namanya. Sedangkan yang mereka diskusikan tidak jauh-jauh dari topik seks. Jadi mulai dari sini, saya beri status DEWASA ya.
Sesi berdiskusi ini hanya terjadi satu kali duduk, di suatu siang dan di hadiri oleh 9 wanita yang saling berkerabat dan berteman. Sambil melepas jilbab mereka bersantai minum Samovar (teh). Satu persatu kemudian menggosipkan orang yang mereka kenal atau tentang diri mereka sendiri. Jadi dalam sekali duduk itu ceritanya bisa kemana-mana, tahu sendiri lah kalau bergosip kayak apa.
Topik gosipnya nggak jauh-jauh dari operasi plastik, pernikahan, ranjang, dan kehidupan seks para perempuan Iran ini. Hingga akhirnya terjawab sudah apa makna Bordir yang dijadikan judul novel grafis milik Marjane Satrapi yang bikin saya ngakak gegulingan.
Saya sudah tidak asing dengan cerita-cerita dan budaya dari timur tengah dimana tradisi seringkali mengekang kebebasan perempuan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Pengalaman-pengalaman yang mereka tuturkan tidak jauh berbeda dari yang pernah saya baca di buku The Girls of Riyadh maupun Kabul Beauty School.
Percakapan-percakapan mereka bikin saya miris sekaligus geli. Marjane Satrapi menceritakan pengalaman para wanita ini dengan gamblang sampai saya jadi bingung harus ketawa atau sedih. This bittersweet feeling..
Sedihnya, dalam budaya Iran masih seringkali terjadi perjodohan dimana anak perempuan remaja di nikahkan dengan pria yang pantas menjadi kakeknya. Selain itu tidak jarang mereka kena tipu, setelah di nikahi lalu diceraikan begitu saja beberapa hari kemudian. Lantas nggak heran kalau ada perempuan Iran modern yang kemudian jadi pro-budaya Barat. Saya hanya bisa bersyukur karena saya beruntung sekali hidup di negara yang sudah menyetarakan gender, it could have been different.
Categories:
Family,
Giveaway,
Graphic Novel,
Marjane Satrapi,
Memoir,
Non-Fiction,
Penerbit Gramedia
Translate to your language
Diberdayakan oleh Blogger.